Rabu, 14 Januari 2015

Sanur A.K.A Greenjail


Kalo orang mendengar nama sanur, seringkali yang dipikirin adalah sekolah dengan isi cewe - cewe haus yang pinter. Tapi itu hanya stereotype. We are just a normal and average student. Memang kebanggaan tersendiri ketika lo lolos tes masuk sanur yang susahnya bukan main. Akan tetapi gw pribadi merasa belom bangga kl belom memegang gelar alumni sanur. Memang keren sih bisa masuk sanur, tapi yg lebih susah adalah bersekolah di sanur.

Respon orang pas tau gw sekolah di sekolah homogen yg bernama sanur, pasti org akan komen "asik dong?". Jawaban gw: ngak juga. Sekolah di sanur itu punya duka tersendiri. Mulai dari seragamnya yang menyaingi para suster ursulin.. Terutama karena kaos kaki selutut dan rok  kotak - kotak ngejrengnya yang keliatan dr jarak jauh. Lalu belom lagi ekspektasi para guru kepada murid yang agak berlebih karena sejarah prestasi warisan kakak - kakak alumni yang membuat keder. Rambut pun tidak boleh tergerai berantakan. Harus diikat satu dan poni diangkat.

Tapi setelah memasuki tahun ketiga gw mulai merasakan indahnya, pertama enaknya sekolah homogen adalah ga perlu jaim (yaialah mau tepe tepe ama siapa?). Kita bebas berekspresi sesuai keinginan. Dan banyak teman - teman yang mensupport selama menghadapi derita di greenjail (tmn seperjuangan). Sekolah di sanur mengajarkan gw untuk mandiri , melatih kemampuan public speaking serta berpikiran kritis.Tanpa sanur gw tidak akan menjadi diri gw yang sekarang ini.

Hal menarik yang gw lihat unik dr sanur adalah tidak adanya senioritas maupun geng. Senior maupun junior sama, gaada yg namanya labrak2an. Lalu geng macem - macem geng cantik ato geng eksis itu gaada, semua ditumpas habis oleh murid2 sanur. Semua sama rata dan dipandang sama oleh satu angkatan. Inilah salah satu hal yang gw suka dr sanur.

Maka kalo ditanya "kalo lo bisa ngulang waktu, apakah lo akan milih masuk sanur lagi?" jawabannya adalah yes. I don't regret the past for making me who i am. but i will embrace the future and keep moving forward
Friends stick together
XII IPS2 - Nefertiti

Selasa, 13 Januari 2015

During Christmas holiday i spent 4 days Traveling to Puncak. More specifically at Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas, West Java. For 4 days me and my friends are hiking to the top of the mountain. People often wonder why would i go and hiking for miles only to see some sceenery. What people don't know is that hiking is indeed exhausting, we have to walk for miles carrying a carrier (super big bagpack for hiking) and let's not forget the rain which is pouring 3 out 4 days during my visits.

Mountain View

With the crew


So if people ask why i do this activities? the answer is because the thrill and the adrenaline while being on the top of the mountain. All the pain and all our exhaust was paid when we arrive at the top. The view at the top may not be very beautiful due to the bad weather. But being 2958 meter above the sea level is breathtaking. you could feel the breeze rushing and feel the wind blows through your face.

Overall i enjoy this trip very much, but the important lesson is evertything is not what it seems to be. Don't judge a book by it's cover. Hiking is quite the uphill battle but it will be worthed in the end